Perbedaan On premise dengan Cloud, Simak Ulasannya!

On-Premise CRM adalah CRM yang diterapkan secara konvensional, yang mana mulai dari pengadaan hingga pengaturan infrastruktur maupun software dilakukan oleh perusahaan itu sendiri. Seperti mulai dari Server, Developer, Design dan lain sebagainya dilakukan oleh perusahaan. Perusahaan dapat dengan mudah mengontrol semua database yang ada didalamnya karena semua data disimpan dimana perusahaan itu berada. Hanya saja, perusahaan perlu mengeluarkan biaya lebih besar karena harus merekrut tim IT sendiri.

Cloud Based CRM adalah CRM yang dioperasikan dengan sistem Remote Location dan tersedia untuk semua klien yang tersedia jaringan internet. Cloud Based CRM ini pada dasarnya adalah Software-as-a-Service dimana perusahaan cukup menggunakan aplikasi/software untuk menggunakan CRM. Semua data disimpan dalam cloud yang disediakan oleh penyedia atau provider. Perusahaan cukup log in pada Software untuk mengakses data pada CRM. Perusahaan pun tidak perlu melakukan pengadaan infrastruktur atau merekrut tim IT karena seluruh keperluan maupun pengaturan yang berhubungan dengan software dan server ditangani oleh provider.

Adopsi cloud computing di seluruh dunia menunjukkan tren positif dari tahun ke tahun. RightScale 2017 The State of Cloud Report mengungkapkan 95 persen dari 1.002 orang IT professional dari berbagai belahan dunia—termasuk 14 persen di antaranya dari Asia Pasifik—mengatakan mereka telah menggunakan cloud computing. Angka tersebut naik dua persen dari dua tahun sebelumnya.

Geliat adopsi cloud bahkan lebih terasa di Indonesia. Seperti diungkap Business Wire, Indonesia akan menjadi negara dengan pertumbuhan adopsi cloud terbesar di ASEAN. Konsumsi mobile yang terus meningkat serta kebutuhan akan DRC (Disaster Recovery Center) menjadi faktor kunci peningkatan adopsi cloud di Indonesia.

Semua data tersebut menunjukkan, semakin banyak perusahaan Indonesia yang telah dan akan mengadopsi cloud computing. Namun di balik “euforia” tersebut, sebenarnya kita harus tetap kritis terhadap teknologi cloud. Karena seperti teknologi lain, cloud sebenarnya juga memiliki keterbatasan.

Bagaimana dengan keamanan data perusahaan?

Baik On-Premise CRM maupun Cloud Based CRM sama-sama memiliki tingkat keamanan data yang sama. Hanya saja, Cloud Based CRM memiliki kelebihan lain yakni server tidak hanya berada di satu lokasi. Semua server-server tersebut terintegrasi sehingga dapat memastikan bahwa CRM Anda memiliki tingkat down 1%.

Ada banyak perbedaan mendasar dari kedua model CRM ini. Kami akan memberikan semua perbedaan-perbedaan signifikan antara On-Premise CRM dengan Cloud Based CRM. Namun pada kesempatan kali ini kami hanya akan memberikan beberapa perbedaan kedua model ini.

1. Nilai Investasi

  • On-Premise CRM: Normalnya, CRM model ini membutuhkan biaya investasi yang sangat besar
  • Cloud Based CRM: Membutuhkan investasi yang lebih kecil

2. Pengadaan atau Inventory

  • On-Premise CRM: Anda harus memesan paket dari manufaktur dengan biaya satu waktu
  • Cloud Based CRM: Hanya membutuhkan biaya langganan baik untuk layanan, perbaikan dan penyesuaian dengan kebutuhan.

3. Pemasangan

  • On-Premise CRM: Harus dipasang di Client System
  • Cloud Based CRM: Tanpa harus menginstalasi sendiri, CRM tersedia untuk pelanggan yang terhubung dengan internet, kapan pun dan dimana pun.

4. Waktu

  • On-Premise CRM: Cenderung memakan waktu yang lebih panjang sebelum CRM benar-benar dapat digunakan.
  • Cloud Based CRM: Dapat digunakan saat itu juga, proses menunggu tidak lebih dari 30 menit.

5. Tim IT

  • On-Premise CRM: Perlu mencari tim IT profesional untuk bisa membuat CRM dengan baik. Perlu biaya tambahan baru untuk gaji tim IT .
  • Cloud Based CRM: Tidak membutuhkan tim IT untuk maintenance, cukup menghubungi provider untuk menyelesaikan permasalahan pada CRM Anda.

Kemungkinan Resiko dalam Implementasi Cloud

Sebelum membahas lebih jauh, penting untuk diingat bahwa bukan berarti public cloud memiliki kualitas buruk. Hanya, Anda tidak seharusnya memutuskan untuk menggunakan public cloud hanya karena layanan teknologi tersebut sedang menjadi tren. Ada beberapa risiko yang harus Anda pertimbangkan sebelum memilih public cloud, yaitu:

  1. Kurang memperhatikan model bisnis

Salah satu keunggulan yang dimiliki oleh public cloud adalah biaya awalnya yang relatif lebih murah jika dibandingkan dengan data center on-premise. Namun, seiring berjalannya waktu, bisnis Anda akan membutuhkan kapasitas transfer data yang semakin besar. Ketika itu terjadi, biaya yang harus Anda keluarkan untuk public cloud akan terus mengalami peningkatan.

Artinya, Anda yang harus menyesuaikan running cost seiring bertambahnya kapasitas sehingga pada akhirnya—jika ditotal—Anda harus membayar lebih mahal untuk public cloud jika dibandingkan dengan on-premise.

  1. Tidak memperhatikan struktur desain bisnis Anda

Public cloud memang menyediakan solusi bagi bisnis untuk menyimpan berbagai data krusial perusahaan Anda. Sayangnya, tidak semua public cloud juga mampu memenuhi kebutuhan keamanan bisnis Anda. Alhasil, jika memang ingin mengamankan seluruh data perusahaan, mau tak mau Anda harus mengeluarkan biaya lebih untuk meningkatkan keamanan

Perbandingan antara public cloud dan on-premise 

Setiap pilihan memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri, begitu pula dengan public cloud maupun on-premise. Agar Anda bisa mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai kelebihan dan kekurangan kedua pendekatan tersebut, berikut adalah perbandingan keduanya.

  1. Public cloud: kelebihan dan kekurangan

Kelebihan:

  • Skalabilitas – Salah satu alasan mengapa layanan public cloud begitu terkenal adalah karena sifatnya yang Layanan yang diberikan bisa disesuaikan dengan kebutuhan bisnis Anda. Jika misalnya saat ini Anda masih membutuhkan public cloud dengan kapasitas sedikit, nantinya Anda bisa menambah kapasitas tersebut apabila kebutuhan bertambah.
  • Modal yang rendah – Anda tak perlu mengeluarkan biaya modal atau investasi yang mahal karena semua peralatan dan maintenance idealnya sudah disediakan oleh penyedia layanan public cloud. Alhasil, Anda hanya perlu membayar sesuai jenis layanan yang Anda butuhkan.
  • Kemudahan akses – Tidak dibutuhkan komputer atau perangkat tertentu untuk menyimpan data-data. Seluruh data akan tersimpan di dalam server sehingga Anda bisa mengaksesnya di mana pun dan kapan pun selama terhubung dengan akses internet yang memadai.

Kekurangan:

  • Tidak memberikan kontrol penuh – Public cloud memang menyediakan layanan penyimpanan data yang praktis karena seluruh perlengkapan dan resource-nya telah disediakan oleh mereka. Namun, hal ini sebetulnya dapat menjadi kekurangan tersendiri karena Anda tidak memiliki kontrol penuh atas teknologi yang digunakan. Anda tidak sepenuhnya mengetahui di mana dan pada lingkungan seperti apa data Anda dioperasikan.
  • Biaya operasional lebih tinggi – Anda mungkin bertanya-tanya, bagaimana bisa public cloud memiliki modal rendah tetapi biaya operasionalnya tinggi? Hal ini sangat mungkin terjadi mengingat public cloud yang memungkinkan Anda untuk menyesuaikan performa atau kapasitas seiring dengan kebutuhan bisnis. Jika kebutuhan terus meningkat, bukan tidak mungkin Anda akan mengeluarkan biaya yang semakin banyak dan jika ditotal di akhir, jumlahnya akan melebihi layanan data center
  • SLA ditentukan sepenuhnya oleh penyedia layanan – Semua layanan yang diberikan oleh public cloud tergantung pada Service Level Agreement (SLA), yakni kontrak dari penyedia layanan untuk memberi jaminan tingkat pelayanan. Hal ini biasanya mencakup seluruh aspek layanan. Jika terjadi masalah, Anda hanya bisa bergantung pada perjanjian SLA ini dan menunggu hingga masalah berhasil diatasi.
  1. On-premise data center: kelebihan dan kekurangan

Kelebihan:

  • Tingkat keamanan tinggi – Seluruh data dan aplikasi penting Anda tersimpan di dalam firewall milik Anda sendiri sehingga hanya bisa diakses oleh perusahaan Anda. Dengan kata lain, private cloud seperti ini cenderung lebih cocok untuk menyimpan dan melindungi data-data bersifat sensitif.
  • TCO yang relatif lebih rendah – TCO merupakan singkatan dari total cost ownership. Jika dibandingkan dengan public cloud, on-premise data center memiliki biaya operasional yang relatif lebih rendah karena sejak awal Anda membayar dalam jumlah yang pasti dan tetap. Tidak ada biaya “on the go” yang bisa membuat Anda justru lebih boros.
  • Memberikan kontrol lebih – Karena menggunakan layanan private cloud, on-premise data center memungkinkan Anda untuk memiliki kontrol lebih terhadap kustomisasi dan pengaturan data center Artinya, Anda dan tim bisa lebih leluasa untuk menyesuaikannya dengan kebutuhan bisnis Anda.
  • Memindahkan data nonsensitif secara mudah – Bagaimana jika lama kelamaan data yang dihasilkan bisnis Anda jumlahnya membeludak? Tak perlu khawatir karena dengan menggunakan on-premise data center, Anda bisa secara fleksibel memindahkan data yang sifatnya tidak terlalu sensitif ke public cloud.

Kekurangan:

  • Modal awal cukup tinggi – Mengingat segala resource yang digunakan khusus untuk data-data Anda saja, modal yang dibutuhkan untuk on-premise data center memang cukup tinggi. Namun, dalam proses penerapannya nanti, biasanya Anda tak perlu mengeluarkan biaya tambahan lagi.
  • Tanggung jawab sendiri dalam merawat data center – Karena merupakan sebuah private cloud, penggunaan on-premise data center mengharuskan Anda untuk menangani segala operasional dan perawatannya sendiri, mulai dari perangkat IT hingga Tak ketinggalan sistem keamanan yang harus Anda upgrade secara rutin demi melindungi data secara maksimal.
  • Skalabilitas terbatas – On-premise data center tidak memiliki tingkat skalabilitas setinggi public cloud sehingga dalam prosesnya nanti Anda tidak bisa mengubah resource IT sesuai kebutuhan.

Ketika pendekatan on-premise dan cloud masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, Anda sebenarnya tidak perlu memilih salah satu. Anda bisa mendapatkan kelebihan dari dua pendekatan tersebut, sekaligus meminimalisir kekurangan keduanya. Sistem yang disebut hybrid cloud inilah yang belakangan menjadi pilihan banyak perusahaan dalam memenuhi kebutuhan infrastruktur TI-nya.

Saat menggunakan hybrid cloud, perusahaan pada intinya menggunakan data center on-premise dan cloud secara bersamaan. Proporsi keduanya sendiri dinamis, disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Beberapa faktor yang biasanya menentukan adalah:

  1. Compliance. Bagi perusahaan yang highly regulated seperti perbankan, kesempatan menggunakan layanan cloud menjadi lebih terbatas. Karena itu, proporsi data center-nya akan lebih berat ke on-premise.
  2. Karakter Aplikasi. Jika sebuah aplikasi harus mudah diakses dari mana saja dengan jumlah hits yang dinamis, biasanya lebih efisien jika menggunakan cloud. Sementara jika aplikasi tersebut melibatkan lalu-lintas data yang besar, on-premise biasanya lebih cocok.
  3. High Availability. Pendekatan cloud bagaimana pun mutlak harus dibarengi koneksi internet yang andal. Namun mengingat internet di Indonesia belum sepenuhnya memadai, perusahaan harus melihat seberapa penting availability sebuah aplikasi. Jika harus always on, pendekatan on-premise masih menjadi pilihan terbaik.

Tentu saja, pendekatan hybrid cloud ini tetap memiliki keterbatasan. Salah satunya adalah kemudahan pengelolaan mengingat perusahaan harus mengelola data center on-premise dan cloud secara bersamaan. Namun jika menimbang kelebihan dan kelemahan dari masing-masing pendekatan di atas, boleh dibilang hybrid cloud menjadi pilihan paling optimal saat ini.

Perusahaan Anda dapat mengakses dan membandingkan harga secara akurat dari sekitar 9,000 maskapai dan 20,000 rute flight untuk mendapatkan harga yang paling murah. Karyawan bisa mengajukan cash advance atau reimbursement dengan cepat karena terintegrasi dengan sistem keuangan perusahaan. Gunakanlah Jojotimes, untuk solusi digital anda!