Mengetahui Rekonsiliasi Fiskal, dari Pengertian hingga Jenisnya

Pernah dengar kata rekonsiliasi? Mungkin kata ini cukup populer di masa-masa pasca pemilu. Jika kata rekonsiliasi dalam konteks itu, mungkin yang dimaksud adalah perbuatan memulihkan hubungan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), setidaknya ada tiga arti terkait kata rekonsiliasi. Namun yang akan kita bahas bukanlah terkait hal tersebut, melainkan rekonsiliasi fiskal.

Dalam artikel kali ini, kita akan bahas rekonsiliasi yang berarti penetapan pos-pos yang diperlukan untuk mencocokkan saldo masing-masing, dari dua akun atau lebih yang mempunyai hubungan satu dengan lain. Tepatnya dalam konteks fiskal.

Ya, kita akan bahas soal rekonsiliasi fiskal. Mungkin kamu pernah dengar kedua kata tersebut, tapi ketika mereka berdiri sendiri-sendiri. Bagaimana ketika mereka bersama? Untuk tahu lebih jauh, baca artikel ini sampai selesai ya!

  • Isi form berikut ini untuk mendapatkan demo gratis aplikasi JojoMeet hari ini.
  • This field is for validation purposes and should be left unchanged.

Pengertian Rekonsiliasi Fiskal

Kalau kamu belum pernah dengar kata rekonsiliasi fiskal, dan ingin tahu apa yang dimaksud dengan rekonsiliasi fiskal, berarti kamu harus baca artikel ini. Artikel ini akan kita mulai dari pengertian terkait rekonsiliasi fiskal.

Dalam sebuah makalah yang ditulis oleh Afkhasia Oditama, rekonsiliasi fiskal diartikan juga sebagai koreksi fiskal. Maksudnya adalah koreksi atau penyesuaian yang harus dilakukan sebelum menghitung pajak. Hal ini dilakukan oleh para wajib pajak orang pribadi.

Koreksi ini biasanya dilakukan karena ada perbedaan. Perbedaan pada pengakuan atau perlakuan penghasilan. Selain itu juga dilakukan ketika ada perbedaan pada biaya, antara akuntansi komersial dan akuntansi pajak.

Dalam praktiknya, sebelum seorang wajib pajak menghitung jumlah penghasilan ken pajaknya, ia harus menghitung penghasilan neto fiskal. Penghasilan neto fiskal merupakan penghasilan yang diterima oleh wajib pajak, baik dari kegiatan usaha, ataupun bukan. Hal ini dilakukan setelah penyesuaian fiskal berdasarkan ketentuan perpajakan.

Penyebab Perbedaan Laporan Keuangan dalam Rekonsiliasi Fiskal

Sebagaimana yang dituliskan di bagian pengertian, bahwa rekonsiliasi fiskal terjadi karena adanya perbedaan dua laporan yang harus disesuaikan. Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa ada laporan yang perlu disesuaikan? Pada bagian ini, akan kita bahas penyebab perbedaan laporan keuangan, khususnya laporan keuangan komersial dan laporan keuangan fiskal.

Perbedaan Prinsip Akuntansi

Hal yang melatarbelakangi adanya perbedaan yang harus disesuaikan adalah prinsipnya. Nyatanya, prinsip akuntansi yang berlaku dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK) untuk bisnis, memiliki perbedaan dengan yang berlaku dalam fiskal. Berikut ulasannya.

Prinsip Konservatisme

Pada prinsip ini, penilaian persediaan akhir dilakukan berdasarkan pada metode “Terendah antara harga pokok dan nilai realisasi bersih.” Serta penilaian piutang dengan nilai taksiran realisasi bersih. Hal ini diakui dalam akuntansi komersial, akan tetapi tidak diakui dalam fiskal.

Prinsip Harga Perolehan (Cost)

Dalam prinsip ini, perbedaanya pada hal perhitungan harga perolehan atau cost. Dalam akuntansi komersial, penentuan harga perolehan barang yang diproduksi boleh disertai unsur biaya tenaga kerja dan tenaga natura. Sedangkan dalam fiskal, pengeluaran dalam bentuk natura, tidak dapat dimasukkan atau diakui sebagai pengeluaran biaya.

Prinsip Pemadaman (matching) Biaya-Manfaat

Untuk prinsip ketiga ini, perbedaannya pada pengakuan terhadap penyusutan. Maksudnya bagaiamana, jika dalam akuntansi komersial mengakui penyusutan pada asset yang menghasilkan. Sedangkan pada fiskal, penyusutan dapat dihitung dari sebelum asset itu menghasilkan, misalkan alat pertanian.

Perbedaan Metode dan Prosedur Akuntansi

Perbedaan selanjutnya ada pada metode atau prosedurnya. Sebagaimana perbedaan pada prinsip, metode dan prosedur ini juga terdiri dari beberapa poin, yaitu:

Metode Penilaian Persediaan

Kalau di akuntansi komersial, kita akan menemukan beberapa cara atau metode untuk perhitungan atau penentuan harga perolehan persediaan. Diantaranya adalah rata-rata (avarage), masuk pertama keluar pertama (FIFO), masuk terakhr keluar pertama (LIFO), pendekatan laba bruto, dan pendekatan harga eceran.

Sedangkan pada fiskal, hanya ada dua metode yang diakui. Pertama adalah metode rata-rata atau avarage. Selain itu adalah metode masuk pertama, keluar pertama, atau yang dikenal juga dengan FIFO (first in first out).

Metode Amortisasi dan Depresiasi

Tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, pada metode depresiasi atau penyusutan, akuntansi komersial memberikan keleluasaan lebih, yaitu dapat dilakukan untuk semua harta berwujud atau asset tetap. Sedangkan pada fiskal, ia hanya membolehkan metode garis lurus dan saldo menurun. Itupun untuk harta berwujud, jenis non-bangunan.

Selain itu, penentuan harga ekonomis suatu barang dapat ditentukan oleh manajemen, itu kalau dalam akuntansi komersial. Namun dalam fiskal, hal ini dilakukan berdasarkan peraturan pemerintah.

Metode Penghapusan Piutang

Metode penghapusan piutang dalam akuntansi komersial ditentukan berdasarkan pada metode cadangan. Sedangkan dalam fiskal, metodenya adalah pada saat piutang tersebut tidak dapat ditagih dengan syarat-syarat tertentu yang telah diatur dalam aturan perpajakan.

  • Ratusan perusahaan menggunakan Jojonomic untuk mengelola kegiatan bisnis sehari-hari dan meningkatkan kinerja karyawan.
  • This field is for validation purposes and should be left unchanged.

Perbedaan Perlakuan dan Pengakuan Penghasilan dan Biaya

Pada bagian ini, ada beberapa poin yang dapat kita lihat, yang menyebabkan perbedaan pada suatu penghasilan, sehingga membutuhkan penyesuaian. Diantaranya adalah:

  • Penghasilan diakui dalam akuntansi komersial, akan tetapi bukan objek pajak penghasilan.
  • Penghasilan tertentu yang diakui dalam akuntansi komersial, tapi pengenaan pajaknya sudah bersifat final. Namun dalam fiskal penghasilan tersebut harus dikeluarkan dari total PKP. Selain itu juga dikurangkan dari laba yang masuk dalam akuntansi komersial.
  • Adanya perbedaan lain yang berasal dari penghasilan, seperti kerugian suatu usaha di luar negeri, kerugian usaha dalam negeri yang telah berlangsung tahun-tahun sebelumnya, serta imbalan dengan jumlah yang melebihi kewajaran.
  • Pengeluaran yang diakui sebagai pengurang penghasilan bruto dalam fiskal, tapi dalam fiskal tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto.

Jenis-jenis Rekonsiliasi Fiskal

Kalau sudah tahu pengertian dan sebabnya, kita akan masuk ke pembahasan berikutnya, yaitu jenis-jenisnya. Rekonsiliasi fiskal ternyata tidak hanya terdiri dari satu jenis, ada beberapa jenis yang perlu kamu tahu. Berikut kita ulas!

Koreksi Fiskal Positif

Apa yang dimaksud dengan koreksi psitif atau koreksi fiskal positif? Koreksi fiskal positif merupakan koreksi yang menyebabkan penambahan penghasilan kena pajak, dan PPh terutang. Bagian ini pun memiliki subjenis lagi, diantaranya yaitu:

  • Pembagian laba, dalam bentuk dividen. Dividen tersebut termasuk pada dividen yang dibayarkan perusahaan asuransi kepada polis, ataupun pembagia hasil usaha suatu koperasi.
  • Biaya yang dibebankan, atau dikeluarkan kepada pemegang saham, sekutu, ataupun anggota.
  • Pajak penghasilan.
  • Biaya yang dikeluarkan untuk kepentingan wajib pajak, atau pun orang yang ditanggungnya.
  • Gaji yang dibayar untuk anggota persekutuan, firma, atau perseroan komanditer. Itu terjadi apabila modalnya tidak terbagi atas saham.
  • Jumlah persedeiaan yang melebihi kapasitas, dihitung berdasarkan metode yang ditetapkan dalam Pasal 10 UU Nomor 36 Tahun 2008.
  • Jumlah penyusutan, melebihi jumlah kapasitas. Metode perhitungannya berdasarkan pada Pasal 10 uu Nomor 36 Tahun 2008.

Koreksi Fiskal Negatif

Jika yang positif akan menambahkan penghasilan kena pajak, maka yang negatif akan mengurangi jumlah kena pajak. Dalam bagian ini juga terbagi ke dalam beberapa subjenis, diantaranya adalah:

Penghasilan yang telah dikenakan PPh final, diantaranya:

  • Pertama adalah penghasilan dari bunga deposito, bunga obligasi dan surat utang negara, atau bunga simpanan yang dibayarkan koperasi kepada anggotanya.
  • Kemudian penghasilan dari hadiah undian.
  • Terakhir, penghasilan dari pengalihan harta, seperti tanah atau bangunan, usaha jasa konstruksi, usaha real estate, atau pun sewa tanah dan bangunan.

Selain itu adalah penghasilan yang bukan merupakan wajib pajak, antara lain:

  • Warisan
  • Harta yang termasuk dalam setoran tunai, diterima oleh sebuah badan.Tujuannya untuk mengganti saham atau modal.
  • Pembayaran yang dilakukan oleh pihak asuransi kepada peserta asuransi.
  • Beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu. Terkait hal ini, sudah diatur dalam Peraturan Kementrian Keuangan.
  • Jumlah persediaan yang kurang dari penetapan jumlah, yang diatur dalam Pasal 10 UU Nomor 36 Tahun 2008.
  • Penyusutan, yang jumlahnya kurang dari jumlah yang ditetapkan oleh sebuah metode. Metode tersebut tertulis dalam Pasal 10 UU Nomor 36 Tahun 2008.

Bagaimana, sudah mendapat sedikit gambaran terkait rekonsiliasi fiskal? Setelah membaca ini mungkin kamu sebagai seorang wajib pajak merasa butuh melakukan rekonsiliasi fiskal. Mungkin salah satu penyebab perbedaan catatan keuangan yang dijelaskan di atas, juga kamu alami, makanya kamu harus melakukan rekonsiliasi fiskal.

JojoExpenseJika kamu adalah seorang akuntan perusahaan, lalu merasa perusahaanmu perlu melakukan rekonsiliasi fiskal, maka segera lakukanlah. Hal ini dapat membuat laporan keuanganmu lebih sesuai dan terdata dengan rapi. Karena laporan keuangan yang rapi, berpengaruh besar terhadap jalannya perusahaan.

Bicara laporan dan pencatatan keuangan perusahaan, kamu bisa nih meminta bantuan pada Jojonomic. Melalui JojoExpense, kamu bisa membuat proses pencatatan keuangan di perusahaanmu, khususnya dalam hal pengajuan dana dan reimbursement bisa dilakukan secara digital. Sehingga kamu bisa mengawasi dan memeriksanya dimana saja dan kapan saja. Selamat mencoba!